HOME
ABOUT US
SERVICES
OUR CLIENTS
CAREER
GALLERY
OPINION
CONTACT US
Training News
More News »


Call Us
+62 21 57903873 or click here to apply online
Investment Advisory Business Advisory Event Management

Opinion
11-05-2009
Selamat Hari Kartono

Sudah terlalu banyak bukti bahwa saat ini perempuan mampu menduduki berbagai posisi penting di dunia baik di bidang pemerintahan seperti Condoleezza Rice (the US secretary of the state), Michelle Bachelet (Presiden Cile), Ellen Johnson Sirleaf (Presiden Liberia), Yulia Tymoshenko (mantan Perdana Menteri Ukraina), Mary McAleese (Presiden Irlandia), Gloria Arroyo (Presiden Filipina), Helen Clark (PM Selandia Baru), Angela Merkel (kanselir Jerman), dan Han Myung Sook (Perdana Menteri Korea Selatan), maupun di bidang bisnis seperti Margaret Whitman (CEO eBay), Anne Mulcahy (CEO Xerox), Sallie Krawcheck (Direktur Keuangan Citigroup), Carly Fiorina (mantan Chairman dan CEO Hewlett Packard), serta Safra Catz (CEO Oracle). Di Indonesia pun ada mantan Presiden Megawati Sukarnoputri, mantan CEO Indofood Eva Riyanti Hutapea, dan mantan CEO Astra Rini Suwandi.

 

Isu emansipasi perempuan sudah tidak relevan lagi

Salah seorang klien laki-laki saya secara eksplisit mensyaratkan jenis kelamin perempuan pada saat melakukan rekrutmen pegawai di bidang manajemen sistem informasi. Alasannya adalah karena perempuan kodratnya tekun, di samping seringkali lebih teliti dan akurat daripada laki-laki. Klien laki-laki saya itu selanjutnya menyebutkan bahwa pegawai perempuan relatif lebih jarang mengeluh, tidak perhitungan, serta memiliki tingkat efisiensi dan efektifitas yang lebih tinggi. Klien saya yang lain, yakni seorang Presiden Direktur (kebetulan juga laki-laki) yang sedang kebingungan mencari Direktur Keuangan untuk perusahaannya, juga bertanya apakah saya memiliki jaringan untuk menemukan Direktur Keuangan dengan jenis kelamin perempuan. Menurut dia sebagai seorang pemimpin, di samping kemampuan teknisnya, perempuan memiliki perasaan yang halus sehingga karyawan-karyawannya merasa relatif lebih terlindungi dan diperhatikan. Sementara, karena kodratnya pula, perempuan akan berusaha memelihara perusahaan dalam situasi yang damai sehingga karyawan merasa tenang.

Dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini para profesional perempuan mulai memasuki bidang-bidang yg seharusnya ‘sakral’ bagi mereka, karena bidang-bidang tersebut sebelumnya merupakan ‘daerah kekuasaan’ para laki-laki. Pada HUT Kopassus setahun yang lalu salah seorang penerjun yang berhasil jatuh tepat di sasaran adalah seorang anggota Kopassus perempuan. Sementara Departemen Pekerjaan Umum yang sejak dahulu selalu menjadi domain laki-laki, sesuai dengan lingkup dan sisi teknisnya, praktis sudah ‘ditaklukkan’ oleh Erna Witoelar. Belum lagi jabatan-jabatan pada tataran berikutnya seperti Sekjen, Dirjen, Gubernur, Bupati dan seterusnya. Saya sendiri saat ini cukup banyak memiliki relasi perempuan, dengan perbandingan hampir 50 – 50, baik untuk bidang-bidang yang ‘normal’ bagi perempuan seperti investasi dan keuangan, maupun bidang-bidang yang ‘tidak normal’ seperti penambang batubara dan pemasok alat berat atau bahkan peralatan militer.

Berdasarkan trend serta kenyataan tersebut di atas, saya merasa isu kesetaraan gender sesungguhnya telah merupakan isu basi yang tidak relevan lagi. Karena perempuan di samping tetap memiliki tanggungjawab yang harus dipikul dalam kehidupan keseharian – yakni dalam peran majemuk sebagai istri, ibu rumah tangga, wanita karier, serta ibu yang harus mendidik anak-anak – mereka ternyata juga dapat meraih kedudukan yang setara di dunia pekerjaan seperti halnya laki-laki. Hampir tidak ada profesi yang tidak dapat dilakukan oleh perempuan (dan sebaliknya). Lucunya, para demonstran masih saja menggunakan lambang-lambang perempuan (perlengkapan kosmetik, pakaian dalam wanita, dan ayam betina) untuk ‘menyindir’ para pejabat yang terkesan lemah, tidak tegas, dan pengecut. Selain konotasinya adalah ‘pelecehan gender’, faktanya pun sungguh tidak sesuai. Siapa yang dapat membantah bahwa calon terkuat (bukan terlemah) Presiden Amerika Serikat mendatang dari kubu Partai Demokrat adalah Hillary Clinton? Dan siapa pula yang dapat menyalahkan antisipasi taktis dari Partai Republik untuk mengimbangi kekuatan (bukan kelemahan) Hillary dengan mulai mengkader serta  ‘mencalonkan’ Condoleeza Rice?

 

 Perjuangan perempuan untuk memperoleh kedudukan

Sejarah mencatat bahwa praktis selama dua milenium pertama laki-laki telah menguasai dunia. Merekalah yang selama ini mendefinisikan aturan main, menetapkan mekanisme pengelolaan sumber daya, menentukan ukuran-ukuran kepatutan hajat hidup manusia, serta secara umum menguasai ilmu pengetahuan. Baru pada sekitar tahun 1960-an berkembang kelompok-kelompok feminis yang mendorong kesetaraan peran gender dengan menyatakan claim  bahwa kedua gender tersebut pada dasarnya adalah sama. Kelompok-kelompok tersebut menganggap bahwa pemerintah, agama, dan sistem pendidikan yang ada selama ini telah secara bersama-sama menekan perempuan. Namun, jika seandainya asumsi bahwa kedua gender tersebut memang persis sama adalah benar adanya, mengapa laki-laki dapat mendominasi dunia selama ribuan tahun? Menurut Allan dan Barbara Pease (2001): “The equality of men and women is a political or moral issue; the essential difference is a scientific one”. Di dalam kajiannya itu, intinya Allan dan Barbara Pease mencoba membuktikan bahwa laki-laki dan perempuan memang pada hakekatnya tidak sama, baik fisik maupun mentalnya. Perbedaan inilah menurut mereka yang membuat laki-laki dapat mendominasi dunia dalam rentang sejarah yang demikian panjang. Secara kodrati, refleks laki-laki adalah dominan dan kompetitif, sementara refleks perempuan adalah mengalah dan menghindari konflik.

Pertanyaan yang menarik kemudian adalah, bagaimana perempuan di milenium ketiga ini dapat mulai berperan aktif dalam ekonomi dan politik dunia, kalau selama ribuan tahun mereka ‘ditekan’ dan ‘diatur’ oleh aturan main yang ditetapkan oleh laki-laki? Menurut saya, ada dua penjelasan yang cukup masuk akal. Pertama, aturan main yang ditetapkan oleh laki-laki pada gilirannya ternyata justru menguntungkan pihak perempuan. Misalnya, ukuran-ukuran yang dipakai dalam rekrutmen pegawai (nilai yang diperoleh di bangku sekolah, psikotest, loyalitas terhadap perusahaan, dan lain-lain) secara alamiah akan menunjukkan bahwa perempuan memang lebih unggul daripada laki-laki. Pada umumnya, sulit dipungkiri betapa perempuan memang lebih tekun belajar (sehingga nilainya lebih tinggi), lebih gigih dalam mengatasi cobaan hidup, lebih menerima keadaan, dan lebih loyal terhadap apapun (pasangan hidup maupun perusahaan tempat mereka bekerja). Sehingga secara ‘tidak sengaja’ aturan main yang penuh dengan sifat kompetitif tersebut jadi malahan menguntungkan perempuan. Pada akhirnya, dengan diberikannya kesempatan kepada perempuan untuk menduduki posisi-posisi penting baik di perusahaan ataupun di bidang pemerintahan  atau dunia politik, maka perempuan makin dapat lebih membuktikan kemampuan mereka.

Saya pernah memiliki seorang pegawai laki-laki yang melakukan korupsi karena ia merasa selalu kekurangan – istrinya tidak bekerja, anaknya banyak, dan sebagainya (alasan klise). Setelah itu saya merekrut pegawai laki-laki yang kebetulan memiliki istri yang bekerja (asumsi saya tentu saja laki-laki ini bebas korupsi karena tidak kekurangan). Namun ternyata pegawai yang terakhir ini juga melakukan korupsi karena merasa ‘dikalahkan’ oleh istrinya. Di lain kesempatan saya memiliki seorang pegawai yang istrinya juga bekerja, namun posisinya lebih rendah daripada pegawai tersebut (asumsi saya semula ini tentu merupakan kondisi ideal). Ternyata pegawai saya yang inipun melakukan korupsi, tetapi kali ini dengan alasan kawin lagi (memiliki istri muda). Tanpa bermaksud gender bias, saya tidak pernah menemukan kompleksitas yang demikian tinggi pada pegawai perempuan. Menurut hemat saya hal ini karena secara kodrati perempuan memang tidak memiliki rasa persaingan dan harga diri yang berlebihan.

Penjelasan yang kedua adalah karena laki-laki pada akhirnya merasa jenuh dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri; yakni dunia yang penuh dengan kekerasan, penuh persaingan dan intrik (tidak mengherankan kalau berbagai idiom baik dalam bisnis maupun dalam pergaulan sehari-hari merupakan idiom-idiom khas laki-laki yang penuh dengan kekerasan dan gender bias: ‘diselesaikan secara jantan’, ‘cutting throat competition’, atau ‘gentlemen agreement’). Laki-laki pada akhirnya harus mengakui bahwa mereka merasa lebih nyaman memiliki rekan atau partner kerja perempuan, bawahan atau atasan perempuan, serta pemimpin perempuan. Selain perempuan secara kodrati lebih mengayomi, anti konflik, dan tidak memiliki rasa persaingan serta harga diri yang berlebihan, mereka juga terbukti cukup mampu dan tekun dalam melakukan tugas dan kewajibannya, sekalipun mereka juga memiliki tanggungjawab sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Demikianlah, perempuan dengan segala kelemahlembutannya perlahan-lahan mulai diakui dan diterima sebagai para pemimpin dunia, pemimpin regional, serta pemimpin perusahaan yang cakap dan berprestasi.

 

 Jasa para Kartono

Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa “behind the success of every man is a woman”. Dan ada kalimat tidak bijak yang mengatakan “behind the success of every woman is herself”, mengingat laki-laki hampir tidak mungkin mau mendukung perempuan atau pasangannya untuk ‘mengalahkan dirinya sendiri’. Terlalu banyak bukti bahwa laki-laki cenderung menghalangi (bukan mendukung), menertawakan (bukan memuji), dan menyangsikan (bukan meyakini) kemampuan perempuan.

Namun saya menyaksikan sendiri segelintir laki-laki yang dengan sangat tulus mendukung kaum perempuan, baik pasangannya maupun perempuan pada umumnya, untuk mengeksplorasi kemampuan mereka secara optimum. Laki-laki jenis ini mendorong istrinya untuk mencapai puncak kariernya, sekalipun mungkin ada beberapa kepentingan pribadi mereka yang dikorbankan. Mereka juga membuat dan mendukung peraturan-peraturan yang memberi kesempatan kepada kaum hawa, misalnya seperti klien laki-laki saya di atas yang ingin merekrut pegawai perempuan, atau Trans Jakarta yang percaya terhadap kemampuan supir perempuan. Mengingat refleks laki-laki yang ingin selalu berkompetisi dengan segala ‘male ego’nya, dukungan mereka terhadap kaum perempuan patut dihargai.

Saya pribadi tetap percaya bahwa “behind the success of every woman is a man” karena bagaimana pun interaksi antara perempuan dengan pasangan hidupnya sangat menentukan keberhasilan mereka, baik di bidang ekonomi, politik, maupun seni dan budaya. Tanpa dukungan pasangan, mustahil mereka bisa mencapai titik optimum dalam karier mereka. Dukungan tersebut dapat berupa kesempatan untuk bekerja, mengecap pendidikan yang sangat tinggi, mengikuti berbagai seminar atau pelatihan di luar negeri, sampai meninggalkan anak-anak pada suaminya demi tuntutan pekerjaan.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati dan tanpa bermaksud mengecilkan jasa dan jerih payah para aktivis perempuan, tulisan ini saya persembahkan bagi segelintir laki-laki Indonesia yang telah memberi jalan kepada kaum perempuan untuk bersama-sama membangun negeri. Kepada mereka saya ucapkan selamat hari Kartono.

 

Oleh: Estelita Hidayat, MBA

(Dimuat di Harian Seputar Indonesia, 21 April 2006)




Index Article
04-06-2013 » Quo Vadis Oil Fuel Subsidy?
04-06-2013 » Quo vadis subsidi BBM?
18-04-2013 » Peraturan Menteri ESDM No 7 tahun 2012 di dalam kerangka Game Theory (Part 2)
18-04-2013 » Peraturan Menteri ESDM No 7 tahun 2012 di dalam kerangka Game Theory (Part 1)
06-08-2012 » EMR Ministerial Regulation No 7/2012 in the Framework of Game Theory
09-10-2009 » BBM, BLT, BKM, dan ‘BT’
11-05-2009 » Siapkah Kita Memaafkan Koruptor?
11-05-2009 » Selamat Hari Kartono